accompany my sister in heaven



Tukk.. tukk..” terdengar seseorang sedang mengetuk pintu.
“Ada apa?” tanyaku sambil membuka pintu.
Tampak seseorang menggunakan jepit rambut, baju terusan berwarna merah dan sepatu merah muda. Dia hanya menunduk kaku dengan memegang sebuah boneka anak perempuan. Dia tidak berbicara sepatah kata pun kepadaku. Tiba-tiba ia melukai tanganku.
“Adduh!!” teriaku.
Setelah aku berpaling sebentar dia menghilang begitu saja.
“Aisya, bisakah kamu membantu mama?” terdengar suara yang mengalihkan perhatianku dari gadis itu.
Dengan cepat aku menutup pintu dan berusaha tidak memikirkan gadis aneh yang melukai tanganku. Dan aku berusaha menghentikan pendarahan yang terjadi di tanganku.
“Aa..da apa ma?” tanyaku agak gugup karena kejadian tadi.
“Tolong bantu mama membersihkan kamarmu!” kata mama yang tidak menghiraukan suara gagapku yang mungkin mencurigakan.
“Baik.” jawabku sambil berlari menuju tangga.
Sesampainya di kamar, aku menutup pintu sambil menghela nafas.
“Untung saja mama tidak melihat tanganku.”
Setelah mengobati lukaku, aku segera merapikan tempat tidurku dan mengambil telepon genggamku yang kuletakan tepat di bawah bantal. Aku mulai menyentuh satu per satu huruf di telepon genggamku.
“Sebaiknya aku menelepon Tika.”Setelah menunggu beberapa detik akhirnya telepon genggamku tersambung juga dengan telepon genggam Tika.
“Hai Aisya! ada apa? tanya seseorang dari ujung telepon.
“Tadi ada seorang gadis yang membawa boneka anak perumpuan yang melukai tanganku. Dan apakah kamu tahu orang itu?” tanyaku.
“Tentu aku mengetahuinya karena baru beberapa menit tadi dia datang ke rumahku. Tapi dia tidak melukaiku”. jawab Tika yang mengiyakan.
“Baiklah, bagaimana jika aku ke rumahmu?” tanyaku.
“tentu.”
Aku menutup telepon dan berjalan ke lantai bawah.
“Ma… aku pergi ke rumah Tika.” kataku sembari berlari kecil keluar dari pintu.
“Iya, hati-hati ya sayang!”
Aku menyusuri jalan sambil mengayuh sepedaku yang sudah tua.
“Tuuk.. tuk.. asalammualaikum”
“Waalaikumsalam” jawab seseorang yang membukakan pintu untukku.
“Ayo silahkan masuk Aisya. Tika telah menunggumu di lantai dua.” kata mama Tika mempersilahkan.
“Terima kasih, tante.”
Aku melangkahi anak tangga, aku melihat beberapa foto keluarga Tika yang tergantung di dinding rumah.
“Tukk.. tukk.. Tika.. Tika..” aku memanggil Tika sambil mengetuk pintu kamarnya.
“Silahkan masuk!”
Aku memasuki kamar Tika.
“Begini, aku hanya ingin tanya soal gadis aneh yang meluakai tanganku tadi?” tanyaku sambil duduk di tempat tidur Tika.
“Hmmm… aku kurang tahu dan untung saja dia tidak melukaiku. Tapi, boneka anak perempuan yang dibawanya membuatku binggung.” kata Tika sambil meletakan sebuah pensil di telingganya yang menandakan dia sedang kebinggungan.
“Baik, bagaimana kalau besok sesudah sekolah usai kita mencari tahu tentang dia?” tanya Tika.
“ok, aku akan membantu”
Keesokan paginya
Selesai sholat shubuh aku bergegas ke kamar mandi dan mengenakan seragam berwarna merah tua dengan corak kotak-kotak juga tak lupa tas punggung kuning yang memperindah penampilanku. Aku melangkah penuh semangat, dari kejauhan sudah terlihat mama dan papaku sudah menunggu.
“Pagi, Aisya!” tanya seseorang dari kejauhan.
“Pagi, papa, kenapa kemarin papa terlambat pulang kerja?” tanyaku sambil menyembunyikan tanganku yang terluka.
“Maafkan papa, karena kemarin banyak sekali tugas yang harus papa kerjakan jadi papa harus lembur.” jawab papa sambil mengusap-usap kepalaku.
“Sudah, ayo Aisya segera habiskan sarapannya dan segera bergegas.” kata mama yang menghentikan sejenak percakapan aku dan papa.
“ok, bos!!” jawabku sambil tersenyum manis.
Selesai dengan sarapanku yang lezat, aku pun menaiki mobil dan segera berangkat. Di sepanjang jalan, aku berusaha menyimpan tangan kiriku dari penglihatan papa. Tak sengaja, aku melihat gadis yang melukai tanganku kemarin
“Hah, gadis itu lagi!!” kataku sambil berteriak kesal.
“gadis? siapa itu,Aisya” tanya papa penasaran mendengarku berteriak.
“oo.. ti..dak.. bukan siapa-siapa. kataku dengan gugup sambil tersenyum untuk meyakinkan papa.
“Kenapa gadis itu berada disini?” pikirku
Sesampainya di sekolah, bel sudah berbunyi dan aku tak sempat untuk mencari keberadaan gadis itu untuk mempertanggung jawabkan perbuatanya. Pagi ini, adalah pelajaran bu Sularsih yang mengajar pelajaran bahasa inggris.
Tak terasa beberapa pelajaran telah usai, tinggal beberapa menit lagi pelajaran terakhir usai.
“Tiit..titt.”
Semua anak berhamburan keluar dari kelas kecuali aku dan Tika. Kami hanya saling menatap. Tapi tak berapa lama, Yanti si gadis peramal datang menghampiri.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Yantia agak pelan.
“Kami hanya sedang berpikir tentang sesuatu.” kataku menjawab pertanyaan Yanti.
“Kalian sedang memikirkan gadis aneh bukan?” tanya Yanti.
“Bagaimana kau mengetahuinya?” Tika kembali bertanya.
Yanti hanya mengangguk tanpa kata.
“Gadis itu adalah pembunuh!” kata Yanti yang membuat suasana menjadi mencekam.
“iya, kemarin ia melukai tangan kiriku padahal aku tidak menyakitinya” ungkapku kesal.
Yanti pun melangkah keluar dari kelas, seolah-olah sedang menuntun kami menuju gadis itu.
“Gadis itu telah membunuh adikku sebulan yang lalu saat adikku bermain di persimapngan itu.”
“Apa?!” kami terkejut dengan apa yang di katakan oleh Yanti.
“Dulu aku seperti kalian. Gadis itu selalu datang ke rumahku dan dengan membawa boneka anak perempuan yang sama seperti yang kalian lihat saat dia datang. Dan adik gadis itu yang bernama Mia juga telah mati dibunuh oleh seorang pembunuh. Jika kalian ingin mengunjungi rumah gadis itu, kalian pergi saja ke persimpangan tersebut dan rumahnya berada di ujung persimpangan dengan nomor 13, aku tidak akan mengantar.” jelasnya.
Kami tidak menghiraukan apa yang dikatakan Yanti. Sesuai petujuk miranda kami mengunjungi rumah di ujung persimpangan untuk meminta pertanggung jawaban.
“Dimana rumahnya? disini hanya ada rumah papan yang angker dengan nomor 13.” kataku sedikit kesal.
“Baiklah, lebih baik kita masuk saja.” kata Tika.
“aahh.. aku tidak mau, lebih baik menunggu gadis itu sampai ia keluar dibanding harus masuk ke rumah angkernya itu.” kataku yang menolak ajakan Tika.
Setelah 3 jam, gadis itu tak kunjung keluar dan membuatku semakin kesal saja.
“Hadduh!! gadis itu dimana sih? apakah jangan-jangan dia tidak di rumah.” kataku sambil melempar kerikil ke dalam selokan.
“Kurasa.”
“Bagaimana jika kamu yang mengecek, karena ini sudah pukul 5 sore dan aku ingin pulang.” kataku sambil mengedipkan sebelah mata.
Dengan langkah ketakutan Tika mengintip ke arah jendela.
“Aisya.. Aisya kesini!” ajak Tika sedikit berbisik.
Aku pun mengikuti Tika. Kami melihat gadis itu duduk di kursi goyangnya dan tiba-tiba dia menatap kami. Dan rasanya aku tak berani meminta pertanggung jawaban kepadanya. Tiba-tiba saja dunia seakan berubah keadaan langit tampak sangat gelap, petir pun mulai menyambar, suasana terasa sangat menakutkan, aku berlari menuju bagian garasi rumah tersebut. Kami bersembunyi tepat di bawah meja. Gadis itu datang dan berjalan seperti zombie.
“Mia..” kata gadis itu berteriak memanggil nama adiknya.
“bau busuk apa ini?” bisikku sangat pelan.
Aku melihat ke samping teryata seorang gadis kecil dengan muka penuh darah dan darahnya sudah mengotori gaun putihnya. Mia teryata sudah disimpan selama bertahun-tahun di bawah meja.
“aahh.. Aisya tolong aku!!” terdengar suara permintaan tolong.
Gadis itu pun menancapkan pisau tepat di kaki Tika. Keringat pun mulai bercucuran membasahi dahi dan pakaianku. Aku tak sanggup mendengar permintaan tolong Tika. Aku menutup telingaku. Aku tak tahu harus berbuat apa.
“Tika, maafkan aku..” tangisku.
“Aahh…”
Suara tangisan Tika pun terhenti seketika.
“Tika…” teriakku dengan menyesal.
“ahhh!!”
Jantungku tiba-tiba saja berhenti berdetak.
Malam ini adalah saat terakhir aku berada di rumah. Semua orang menangisi kepergianku terutama mama, ia terlihat paling sedih.
“Mama, maafkan aku. Sekarang aku dan Tika harus pergi untuk selamanya…”
TAMAT



Samarinda 11 Februaru 2018
by:Ary maulana HS

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Virus yang saat ini menjadi wabah dibanyak negara di dunia

the Forgotten

5 Fakta Menarik Tentang Es Krim Walls yang Belum Kamu Tahu